15 April 2013, Perang Korea Lagi?

Pasca pemberlakuan sanksi baru atas percobaan nuklir Korea Utara (Korut) oleh Dewan Keamanan (DK) PBB, eskalasi konflik di Semenanjung Korea memasuki tahap baru, yatu mulai dari pembatalan perjanjian non-agresi oleh Korut, ancaman penyerangan langsung, latihan militer bersama, sampai pengerahan alat-alat militer di sekitar Semenanjung Korea. Bahkan, sampai saat ini, peringatan Sekjen PBB, Ban Ki Moon terhadap Korut, belum mampu menghasilkan deeskalasi konflik. PBB mulai menyarankan negosiasi dalam menyelesaikan konflik.

Pada 2 April 2013, Juru Bicara Dinas Energi Atom Korut, melalui Kantor Berita Korut, KCNA, mengatakan, Korut akan mengaktifkan dan membangun kembali fasilitas – fasilitas nuklir, termasuk fasilitas pengayaan uranium dan reaktor Yongbyon berkapasitas 5 Megawatt yang ditutup sejak 2007. Fasiltas nuklir tersebut akan digunakan untuk kepentingan militer dan perlistrikan. Kebijakan Korut tersebut muncul setelah Amerika Serikat (AS) mengirim sejumlah pesawat pengebom ke Korsel berkemampuan nuklir B-52. Sebelumnya, AS telah mengirim pesawat pembom siluman B-2s, pesawat F-22, dan sebuah kapal perusak USS Fritzgerald ke pantai Korea Selatan untuk latihan gabungan bersama Korsel. Menanggapi ketegangan di Semenanjung Korea, Ban Ki Moon mengatakan, ketegangan di Semenanjung Korea sudah sangat tinggi, sehingga memperingatkan Korut tidak mengeluarkan ancaman nuklir. Tidak ada pihak yang ingin menyerang Korut karena ketidaksepakatan terhadap program nuklirnya. Namun, pihaknya khawatir akan adanya respon tegas terhadap provokasi militer Korut. Sementara, Juru bicara Markas Besar Tentara Rakyat Korea dalam laporan kantor berita KCNA juga telah menginformasikan kepada AS bahwa akan melakukan serangan ke AS yang berpotensi melibatkan serangan nuklir.

Sementara, pada 3 April 2013, Korut melarang pekerja Korsel memasuki zona industri bersama di Kota Kaesong diKorut yang terletak di perbatasan dengan selatan. Pekerja Korsel yang masih berada di zona industri Kaesong berjumlah 861, sementara yang berusaha masuk berjumlah 179. Menanggapi hal tersebut, pihak Korsel mendesak DPRK segera menormalisasi operasi kompleks industri tersebut. Kemudian, pada 4 April 2013, Menteri Pertahanan Korea Selatan, Kim Kwan Jin mengatakan, Korut telah menempatkan sebuah rudal berjarak jangkau menengah ke pantai Timur, bersamaan dengan penguatan pertahanan rudal Pasifik AS di tengah eskalasi ancaman Korut. Rudal tersebut dapar menjangkau jarak yang cukup jauh, tetapi tidak sampai ke daratan AS, dan bertujuan untuk uji tembak latihan militer Korut. Sehubungan dengan itu, tentara Korut memperingatkan kepada AS akan melakukan serangan nuklir sewaktu-waktu. Tentara telah berwenang untuk melawan agresi AS dengan kounter aksi militer praktis yang kuat. Sampai pada 5 April 2013, Korut teah menempatkan 2 rudal berjarak jangkau di pantai Timur.

Sebelumnya, pemerintah Korut memberikan peringatan kepada kedutaan-kedutaan asing yang berada di Korut untuk melakukan evakuasi karena tidak dapat menjamin keselamatan diplomat asing, terkait meningkatnya ketegangan nuklir di Semenanjung Korea. Namun, kedutaan asing masih tetap berada di Korut. Sementara, pada 7 April 2013, pejabat Senior AS mengatakan, AS memutuskan menunda rencana jangka panjangnya melakukan percobaan peluncuran rudal jarak jauh di California, untuk menghindari kesalahpahaman yang mungkin terjadi terkait ketegangan dengan Korut. Pasca penundaan peluncuran rudal jarak jauh AS, pada 8 April 2013, Presiden China, Xi Jinping mengatakan, tidak seorangpun seharusnya diizinkan menyebabkan sebuah kawasan, ataupun seluruh dunia dalam kekacauan untuk kepentingan sendiri. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi menolak pernyataan, tindakan provokatif dari kawasan manapun dan tidak mengizinkan adanya kekacauan di sekitar wilayah China. Pihaknya mengkritik kebijakan Korut yang sebelumnya menyatakan tidak menjamin keselamatan perwakilan asing termasuk China di Korut.

Meskipun mendapat tekanan dan kritik dari berbagai negara dan lembaga dunia, termasuk PBB, eskalasi konflik di Semenanjung Korea masih belum menunjukkan penurunan, bahkan tindakan provokatif Korut dalam penggunaan senjata nuklir yang semakin meningkat, diikuti reaksi pertahanan militer AS dan Korsel, semakin meningkatkan ketegangan. Konflik ini tidak hanya berdampak pada konflik bersenjata/nuklit, tetapi juga berdampak pada kerjasama ekonomi maupun politik Korut dengan negara lain, termasuk pada semakin menurunnya hubungan politik China dan Korut. Tingginya dinamika ketegangan tanpa adanya indikasi penurunan, diikuti dengan adanya hari kelahiran Kim Il Sung (mantan Presiden Korut, kakek Kim Jong Un) pada 15 April 2013 disinyalir menjadi momentum yang akan digunakan Korut untuk melakukan tindakan provokatif lain. Tingginya ketegangan di Semenanjung Korea dapat memicu instabilitas politik dan keamanan, yang dikhawatirkan akan berdampak negatif di kawasan Asia Timur. Terkait perkembangan ini, Indonesia mempunyai celah untuk ikut berperan lebih pro aktif meredakan situasi melalui jalur diplomasi, dengan memanfaatkan kedekatan hubungan Indonesia dengan Korsel dan Korut dan terus mendorong diwujudkannya dialog maupun negosiasi/mediasi.

taken from : http://politik.kompasiana.com/2013/04/08/15-april-2013-perang-korea-lagi-544113.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s